Laporan mini riset

LAPORAN HASIL MINI RISET
PENGARUH KELOMPOK MENTORING TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER  SISWA/I
SMA HARAPAN PAYABAKUNG
DOSEN PENGAMPU :
Fitri Amaliyah Batubara, S.Pd., M.Pd


DI
S
U
S
U
N

OLEH
DEWI AGUSTIN
1810110028
5 REGULER A1
PROGRAM SARJANA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM & HUMANIORA
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN PANCA BUDI MEDAN
2019/2020
KATA PENGANTAR

Bismillahi wabihamdihi
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh
Alhamdulillah segala puji bagi allah yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga saya dapat menyelesaikan laporan hasil penelitian mini riset ini dengan baik. Sholawat dan salam tidak lupa pula bersholawat kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta seluruh ummat nabi mendapatkan syafa’at nya di yaumul akhir kelak.
terimakasih kepada Ibu Fitri Amaliyah Batubara, S.Pd., M.Pd selaku dosen Sosiologi Pendidikan di Universitas Pembangunan Panca Budi, atas kesempatan yang telah diberikan kepada penulis sehingga dapat mengerjakan tugas mini riset.
Laporan ini disusun dengan tujuan untuk menambah pengalaman dan khazanah sebagai mahasiswa. Saya menyadari bahwa laporam ini jauh dari kata sempurna sehingga saya mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun sehingga saya dapat menjadi lebih baik lagi dimasa yang mendatang.





Medan, november 2019


Dewi Agustin
NPM : 1810110028

DAFTAR PUSTAKA
Kata pengantar
BAB I
1.1 Pendahuluan
1.2 Rumusan masalah
1.3 Tujuan penelitian
1.4  Manfaat penelitian
1.5 hipotesis
1.6 sistematika penulisan
BAB II
METODE PENELITIAN
2.1 pendekatan penelitian
2.2 penentuan populasi sampel
2.3 metode pengumpulan data
2.4 Analisis data
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3.1 Kelompok pengajian siswa
3.2 Motivasi Anggota Pengajian Mengikuti Kelompok Sosial Keagamaan (Pengajian)
3.3Pengaruh Mentoring Terhadap Pembentukan Karakter Anggota
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
4.2 saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Mentoring Agama Islam adalah kegiatan pendidikan dan pembinaan agama Islam dalam bentuk pengajian kelompok kecil yang diselenggarakan rutin tiap pekan dan berkelanjutan. Tiap kelompok pengajian terdiri atas 3-10 orang, dengan dibimbing oleh seorang pembina. Kegiatan sering disebut juga dengan Dakwah Sistem Langsung(DSL). Kegiatan ini bisa juga dijelaskan sebagai pembinaan agama melalui pendekatan kelompok sebaya.
Kegiatan ini dianggap menjadi salah satu metode pendekatan pembinaan agama dan moral yang efektif, karena cara dan bentuk pengajarannya yang berbeda dengan pendidikan agama secara formal di kelas-kelas sekolah. Di beberapa sekolah dan daerah, kegiatan ini terbukti dapat mencegah tawuran pelajar sekolah.
Pembina sebuah kelompok mentoring disebut mentor (bahasa Inggris: penasehat), sedangkan peserta mentoring disebut mentee (baca: mentii). Melalui diskusi-diskusi atau pengajaran mereka  menghasilkan berbagai intelektual muslim, membangun ilmu pengetahuan dan peradaban islam.
Di era modern ini kelompok keagamaan bukan hanya sekedar membahas masalah keagaman, tetapi juga membahas ekonomi, sosial, dan bahkan politik. Hal itu dibuktikan dengan sejarah Indonesia yang digerakkan atas nama kelompok agama yang merupakan bentukan dari diskusi-diskusi ataupun pengajian keagamaan yang diselenggarakan oleh kelompok tersebut.





Rumusan masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
Bagaimanakah proses berlangsungnya penanaman nilai nilai islam dalam individu siswa/i  tersebut ?
Bagaimanakah pengaruh mentoring terhadap pembentukan karakter siswa/i ?
Apakah motivasi siswa/i mengikuti kegiatan mentoring disekolah tersebut?

Tujuan penelitian

Tujuan penelitian ini bertujuan untuk :
Untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester Sosiologi pendidikan
Untuk mengetahui bagaimana penanaman nilai nilai islam di sekolah Sma Negeri 1 Hamparan perak
Untuk mengetahui dampak apakah yang terjadi bila mengikuti mentoring terhadap pembentukan karakter siswa/i


manfaat penelitian

penelitian ini secara teoritis dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran mahasiswa untuk lebih mengetahui bagaimana kegiatan mentoring dalam menjalankan aktivitas didalamnya, baik proses interaksi, maupun sosialisasi. Selain itu secara praktis dapat digunakan sebagai pengembangan mentoring dalam meningkatkan kualitas ummat islam secara umum.

1.5 Hipotesis

Kelompok pengajian agama ( mentoring) dapat mempengaruhi pembentukan karakter siswa/i ,  dimana pengaruh tersebut memiliki karakteristik berbeda dari kelompok sosial nonagama, misalnya kelompok pertemanan, atau sosialisasi.


1.6 Sistematika Penulisan
Dalam penulisan penyusunan laporan ini, penulisan disusun dalam beberapa bab dengan sitematika tertentu agar pembaca lebih mudah memahami, sitematika penulisan laporan ini sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, hipotesis  dan sistematika penulisan.
BAB II : METODE PENELITIAN
Bab ini membahas mengenai metode penelitian yang saya gunakan dalam sebuah mini riset yang telah saya lakukan di sekolah SMA HARAPAN PAYABAKUNG Kec. Hamparan perak
BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini membahas mengenai hasil penelitian sebuah mini riset yang dilaksanakan di sekolah SMA HARAPAN PAYABAKUNG Kec. Hamparan perak.
BAB IV : PENUTUP
Bab ini menjelaskan mengenai kesimpulan dari hasil yang diperoleh dan saran yang bermanfaat untuk pengembangan belajar dimasa yang akan mendatang.












BAB II
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini ada beberapa metode yang dapat saya lakukan, yaitu seperti :
2.1 Pendekatan Penelitian
       Pada penelitian ini saya menggunakan metode pendekatan kualitatif, yaitu pendekatan yang berusaha menangkap kenyataan sosial. Menurut pendekatan ini, objek penelitian dilihat sebagai kenyataan hidup yang dinamis. Sehingga dengan penelitian saat ini tidak memperoleh data berupa angka.
Dalam pendekatan ini saya menggunakan penelitian deskriptif. Deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan suatu situas, .baik mengenai deskripsi karakteristik individual, situasi, atau kelompok sosial secara akurat.

2.2  Penentuan Populasi Sampel
Subjek dalam penelitian saya adalah kelompok sosial keagamaan yang diambil kegiatan ekstrakurikuler yang terdapat disekolah SMA HARAPAN PAYABAKUNG Kecamatan Hamparan perak.
2. 3  Metode Pengumpulan Data
Data yang saya gunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Yaitu data yang didapat langsung dari lapangan. Dalam penelitian ini data primer didapat dengan cara observasi dan wawancara (interview).
Metode Interview
Interview  adalah  wawancara dengan tujuan percakapan tertentu. Dalam metode ini peneliti dan responden berhadapanlangsung (tatap muka) untuk mendapatkan informasi secara lisan dengan mendapatkandata tujuan yang dapat menjelaskan masalah penelitian. (  Lexy   J   Moleong   (1991:135)



Metode observasi
observasi adalah aktivitas terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian. Ilmu pengetahuan biologi dan astronomi mempunyai dasar sejarah dalam pengamatan oleh amatir. Di dalam penelitian, observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar dan rekaman suara.
2.4 Analisis Data
Analisis yang kami pakai dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif (penggambaran), karena data yang kami kumpulkan untuk mengkaji data bersifat kualitatif. Dimana hasil tersebut merupakan hasil dari interview atau wawancara secara langsung terhadap objek penelitian yang dilakukakan secara sistematis.























BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
         
3.1 Kelompok Pengajian siswa ( MENTORING)
Kelompok pengajian yang saya teliti adalah salah satu kelompok pengajian siswa yaitu kegiatan ekstrakurikuler yang dominan berdomisili di daerah desa payabakung.
Jika dilihat dari latar belakang anggota pengajian umumnya mereka sejak kecil telah mendapat pengajaran islam yang kuat, jika dilihat secara latar belakang akademik mereka berasal dari sekolah-sekolah islam sehingga mereka tidak merasa canggung lagi dengan ajaran-ajaran islam yang didiskusikan dalam pengajian tersebut. Ketika ditanya tentang motivasi mereka mengikuti kelompok pengajian, mereka menjawab secara normatif misalnya karena menuntut ilmu agama, mengharap ridha Allah, dan lain sebagainya. Tetapi jika ditelaah terlebih dalam lagi ternyata hal tersebut tidak lepas dari riwayat pendidikan para anggota yang memang telah diajarkan nila-nilai keagamaan sejak kecil.
Adapun data riwayat pendidikan mereka sebagai berikut.
Nama
Riwayat Pendidikan dan Pengalaman keagamaan

AGESTI SIREGAR
SD, MTS, MA (sebelumnya juga aktif dalam kelompok pengajian)

DIO DERMAWAN
Pondok dan Sekolah

DIDI SIREGAR
SD,SPMN 1, SMA

SYIFA NASUTION
SMA sekaligus aktivis dakwah

FITRIA
SD, MTS , SMA

Fadli
SD, MTS, SMA

M. Anwar S.
SMP Islam Terpadu

M. Jamaludin
MDA, MTS, SMA

Para anggota pengajian tersebut juga sangat plural dimana mereka berasal dari suku-suku yang berbeda yang tentunya memiliki berbagai perbedaan kultur, bahasa, kebiasaan, maupun karakter. Jumlah anggota pengajian tersebut umumnya  berkisar tujuh orang dengan satu murabbi (guru), dalam pengajian mahasiswa ini terdapat banyak kelompok yaitu 6 kelompok pengajian, yang masing-masing kelompok memiliki pengajarnya masing-masing, pembatasan anggota bertujuan untuk lebih memfokuskan kegiatan belajar mengajar. Pengajarnya atau ustadnya memiliki kelompok pengajian juga, dimana pengajarnya satu tingkatan diatas mereka, jadi model pengajian kelompok ini bertingkat.
Pengajian ini diwali dengan tahfidz (hafalan) ayat-ayat al-qur’an kemudian dilangsungkan dengan ceramah singkat yang dibawakan oleh anggota pengajian. Adapun pembagian kerja para anggota telah ditentukan terlebih dahulu misalnya pembawa acara, ceramah singkat anggota dan lain sebagainya.
Untuk tempat sendiri pengajian ini dilakukan di mushola sekolah. Untuk pendanaan kegiatan mereka melakukan infak atau iuran disetiap pertemuannya, uang tersebut digunakan sebagai alat untuk memeperlancar agenda kelompok misalnya acara malam ibadah, olahraga, buka bersama, ataupun sebagai cadangan untuk membantu anggota  kelompok tersebut jika terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.
Disetiap pertemuannya ustadz/ah memberikan angket penilaian ibadah (lembar mutaba’ah) yang dilakukan oleh anggota sebagai bahan evalalusi penerapan keilmuan islam, misalnya berapa kali solat jamaah, sunah, puasa dan ibadah-ibadah yang lainnya.
Posisi atau kedudukan ustadz /ah dalam pengajian itu sebagai pengajar namun terdapat interaksi yang sejajar antara mereka, artinya ustad tidak dikultuskan atau diagung-agungkan seperti halnya islam tradisional. Karena latar belakang pendidikanlah mereka cenderung bersikap rasional dalam memandang sesuatu, karena “tidak ada pengkultusan terhadap guru dalam kelompok ini, dimentoring ini  saling bertukar ilmu keagamaan karena pada dasarnya masing-masing dari murobbi dengan mutarobbi masih memiliki berbagai kekurangan sehingga kami saling melengkapi”
Dalam proses pengajian yang saya observasi saya menelaah suatu fakta yang cukup menarik, yaitu meskipun kedudukan ustadz dianggap setara namun ada pola ketimpangan komunikasi yang diwujudkan dalam doktrinansi. Para anggota tidak mengkritisi secara mendalam apa yang diajarkan oleh ustadz/ah, karena pemahaman mereka yang bersifat normatif dan cenderung mudah dibentuk dan diarahkan oleh ustadz/ah. Ruang kosong inilah (doktrinasi) ini menjadi lebih efektif dan dengan mudah diinternalisasi anggota. Sehingga jika ruang doktrinasi ini disalah gunakan untuk menanamkan idiologi radikal maka akan dengan mudah diinternalisasi anggota dikarnakan anggota cenderung menerima doktrin tersebut.


Diakhir pengajian meraka saling membahas permasalahan yang sedang dihadapi, misalnya masalah-masalah disekolah atau masalah dirumah Melalui pembicaraan itulah mereka memecahkan masalah-masalah yang ada pada setiap anggotanya mereka saling membantu dalam member solusi pada masalah tersebut. Selain kegiatan dalam forum pengajian, terdapat juga berbagai agenda diluar forum pengajian tersebut misalnya, olahraga bersama, jalan-jalan (rihlah), bahkan kegiatan seperti out bound dan pramuka.
Motivasi Anggota Pengajian Mengikuti Kelompok Sosial Keagamaan (Pengajian)
Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, Pada kelompok pengajian mentoring ini , sebagian besar anggotanya memiliki motivasi atau alasan normatif dalm mengikuti mentoring tersebut, alasan untuk mendapatkan ilmu dan memperdalam ilmu agama. Namun hal itu tidak lepas dari sosialisai keagamaan yang telah terlebih dulu ditanamkan sejak kecil sehingga mereka lebih mudah dalam melakukan adaptasi terhadap kelompok.
3.3 Pengaruh Mentoring Terhadap Pembentukan Karakter Anggota
Pembentukan kepribadian bermula dari semenjak kelahiran indivu, dimana secara normal kelompok primerlah yang mengajarkan pertamakali dan selanjutnya kelompok-kelompok skunder yang kemudian menamkan pola-pola perilaku berikutnya. Dalam pengajian yang saya teliti, sebagaimana telah diterangkan diatas bahwa sejak kecil para anggota telah mendapatkan pengajaran keislaman sehingga kepribadian mereka sudah terbentuk sejak kecil.
Pengajian berpengaruh kepada karakter anggota-anggotnya. Seperti yang telah dijelaskan, bahwa dalam pengajian terdapat proses penanaman nilai-nilai kepada anggotanya. Niali-nilai yang ditanamkan nantinya akan membentuk kesadaran anggotanya sebagai orang yang “beragama”. Sehingga mereka akan senantiasa melaksanakan ajaran agama. Penanaman nilai itu bersifat intens, sehingga semakin membentuk kesadaran anggotanya. Selanjutnya anggota pengajian tersebut akan mengaplikasikan nilai-nilai yang mereka peroleh dalam kehidupan sehari-hari

.
Karakter ini juga dibentuk melalui latihan-latihan dan perhatian yang cukup dari ustadz mereka. Misalnya dalam setiap minggu dilakukan evaluasi amal harian sebagai tolak ukur keberhasilan pengajian berdayarkan amalan harian seperti, berapa jus membaca al-Qur’an dalam seminggu, solat jamaah, solat sunah, dan pertanyaan seputar ibadah dan amal sosial. Jadi didalam pengajian tersebut para anggota dituntut untuk mendakwahkan apa yang telah didapat dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, dan anggotanyapun diwajibkan mengikuti kelompok studi ataupun organisasi untuk mengembangkan diri para anggotanya.
Dalam kehidupan sehari-hari mereka berusaha menanamkan nilai-nilai islam dalam kehidupannya misalkan dalam bergaul, ketika mereka saling bertemu mereka mengucapkan salam dan saling bersalaman menurut tradisi islam. Dalam pemangilan nama misalnya mereka memanggil nama teman mereka dengan spaan  “akhi (saudaraku)” untuk laki-laki, dan ukhti (saudara perempuanku). Untuk pola pikir sendiri mereka cenderung bersifat islam normatif misalnya dalam bergaul dengan yang bukan muhrimnya mereka memberikan batasan-batasan tertentu dan menjaga tingkah laku mereka berdasarkan norma yang diajarkan islam.
3.4 DOKUMENTASI
Terlampir



















BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 KESIMPULAN

Bedasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka saya dapat mengambil kesimpulan bahwa, kelompok sosial keagamaan seperti mentoring memiliki peran yang besar dalam pembentukan karakter seseorang menjadi seorang individu yang menjadi lebih baik dan dapat menjadi generasi robbani.

4.2 SARAN
Dari hasil laporan ini masih jauh dari kata sempurna saya berharap bimbingan yang lebih intensif sehingga dapat mengembangkan ilmu dan berguna untuk masa yang akan datang.



























DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Mentoring_agama_Islam
https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-wawancara/
https://id.wikipedia.org/wiki/Pengamatan






































DOKUMENTASI



Pada foto diatas merupakan kegiatan tilawah alqur’an serta setoran hafalan alqur’an dari siswa SMA harapan payabakung



Sharing happynes dengan siswi sma

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikologi belajar

PENDIDIKAN, STRATIFIKASI SOSIAL DAN PERUBAHAN SOSIAL

Riview hasil penelitian podcas sebagai media pembelajaran PAI