Psikologi belajar

 MAKALAH PSIKOLOGI BELAJAR

“ HAKIKAT,CIRI- CIRI,JENIS,AKTIVITAS,FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR”


Di Susun Oleh :

Dewi Agustin 1810110028

Dosen Pengampu :

Fitri Amaliyah Batubara, S.Pd.I.,M.Pd

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN PANCA BUDI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS AGAMA ISLAM DAN HUMANIORA








KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat kesehatan jasmani dan ruhani sehingga kita dapat menjalankan aktivitas sehari hari dengan sebaik mungkin. Sholawat dan salam kita curahkan kepada baginda rasulullah Muhammad SAW yang telah menunjukkan kita menuju jalan yang lurus berupa ajaran islam yang rahmatan lil’aalamin.

Adapun pembuatan makalah  ini dimaksudkan untuk diajukan sebagai syarat pada mata kuliah  Psikologi Belajar  di Universitas Pembangunan Panca  Budi yang diampu oleh ibu  Fitri Amaliyah Batubara, S.Pd.I.,M.Pd. dan atas dasar itulah maka saya  mengharapkan semoga perbandingan  pendidikan  ini bisa digunakan sebagai bahan diskusi kelompok sebagaimana mestinya. 

Mengingat isinya sangat penting sebagai bahan pembelajaran agar tercapainya tujuan dalam menghadapi dan memecahkan masalah, baik masalah individu ataupun masalah kelompok.

Mudah-mudahan makalah ini besar  manfaatnya bagi para pembaca dan khususnya bagi penulis menjadi amal yang sholeh yang bisa menghantarkan kesuksesan dalam belajar.












DAFTAR ISI

Kata pengantar

Daftar isi

BAB I

Latar belakang

Rumusan masalah

Tujuan penulisan

BAB II

2.1 Pengertian Belajar, Hakikat belajar, dan Ciri – ciri belajar

2.2 Jenis belajar, dan Aktivitas Belajar

2.3 Faktor yang mempengaruhi belajar

BAB III

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran



















BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah

Belajar merupakan kegiatan yang tidak asing lagi di kalangan kita. Seperti di era sekarng ini, belajar seolah-olah dianggap sebagai tuntutan yang wajib bagi setiap orang. Tidak hanya bagi mereka yang masih muda, akan tetapi mereka yang sudah dewasa atau terbilang sudah tua dituntut untuk belajar agar mampu untuk menyesuaikan diri dengan keadaan zaman.

Belajar dalam seyogianya dijalankan selama hayat di kandung badan atau bisa dikatakan seumur hidup. Berkaitan dengan kegiatan belajar di tengah-tengah masyarakat mengemuka ungkapan “masa muda adalah masa belajar”. Ungkapan tersebut dimaksudkan bahwa setiap orang muda sudah semestinya mempersiapkan diri untuk memperoleh segala sesuatu yang berguna bagi hidupnya di kemudian hari. 

Dalam makalah ini penulis mencoba untuk menguraikan beberapa hal mengenai konsep belajar yang meliputi, definisi belajar, faktor belajar, proses dan fase belajar, teori-teori belajar serta macam-macam perwujudan perilaku belajar.


B.     Rumusan Masalah

1.      Apakah definisi dari belajar ?

2.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ?

3    Apasajakah hakikat belajar?

4.     Apa saja jeni jenis belajar ?

5.      Bagaimana aktivitas belajar ?


C.     Tujuan Masalah 

1.      Mendiskripsikan definisi belajar.

2.      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.

3.      Mengetahui hakikat dalam belajar

4.     mengetahui aktivitas belajar

.




BAB II

PEMBAHASAN

2.1A.  Pengertian belajar

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan.

Menurut Hilgard dan Bowner ( 1987 : 7) Belajar sebagai suatu proses yang mana suatu kegiatan berasal atau berubah lewat reaksi dari suatu situasi yang dihadapi dengan karakteristik karakteristik dari perubahan perubahan aktivitas tersebut tidak dapat dijelaskan dengan dasar kecenderungan reaksi asli, kematangan atau perubahan perubahan sementara dari organisme.

 Menurut teori ilmu Gestalt, Belajar bukan hanya sekedar proses asosiasi antara stimulus dengan respon yang diperkuat dengan koneksi koneksi atau conditioning dengan melalui latihan latihan atau ulangan ulangan.

B.  Hakikat belajar

Belajar adalah suatu aktivitas yang disengaja dilakukan oleh individu agar terjadi perubahan kemampuan diri. Menurut gagne (1948), bahwa belajar adalah suatu proses dimana suatu organisma berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.dari pengertian tersebut terdapat 3 unsur pokok dalam belajar :

belajar sebagai proses

Belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan. Seorang dikatakan belajar apabila pikiran dan perasaanya aktif. Aktivitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diamati orang lain, akan tetapi dirasakan oleh yang bersangkutan sendiri. Guru tidak dapat melihat aktivitas pikiran dan perasaan siswa. Guru melihat dari kegiatan siswa sebagai akibat adanya aktivitas pikiran dan perasaan siswa, contohnya: siswa bertanya, menanggapi, menjawab pertanyaan guru, diskusi, memecahkan soal matematika, melaporkan hasil kerja, membuat rangkuman, dan sebagainya. Itu semua adalah gejala yang nampak dari aktivitas mental dan emosional siswa. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan manifestasi dari adanya aktivitas mental (berpikir dan merasakan). Belajar tidak hanya dengan mendengarkan penjelaskan guru saja (tidak harus ada yang mengajar), karena belajar dapat dilakukan siswa dengan berbagai macam cara dan kegiatan, asal terjadi interaksi antara individu dengan lingkungannya. Misalnya dengan mengamati demonstrasi guru, mencoba sendiri, mendiskusikan dengan teman, melakukan eksperimen, memecahkan persoalan, mengerjakan soal, membaca sendiri dan sebagainya. Belajar hendaknya melakukan aktivitas mental pada kadar yang tinggi. Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat. (Sadiman, 1986;1)

2. Belajar sebagai Upaya Perubahan Perilaku

Hasil belajar akan nampak pada perubahan perilaku individu yang belajar. Seseorang yang belajar akan mengalami perubahan perilaku sebagai akibat kegiatan belajarnya. Pengetahuan dan keterampilanya bertambah, dan penguasaan nilai-nilai dan sikapnya bertambah pula. Menurut para ahli psikologi tidak semua perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Perubaha perilaku karena factor kematangan, karena lupa, karena minum minuman keras bukan termasuk sebagai hasil belajar, karena bukan perubahan dari hasil pengalaman (berinteraksi dengan lingkungan), dan tidak terjadi proses mental emosional dalam beraktivitas.

Perubahan perilaku sebagai hasil belajar diklasifikasikan menjadi tiga domain yaitu: Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik. Domain kognitif meliputi perilaku daya cipta, yaitu berkaitan dengan kemampuan intelektual manusia, antara lain: kemampuan mengingat (knowledge), memahami (comprehension), menerapkan (application), menganalisis (analysis), mensintesis (synthesis), dan mengevaluasi (evaluation). Domain afektif berkaitan dengan perilaku daya rasa atau emosional manusia, yaitu kemampuan menguasai nilai-nilai yang dapat membentuk sikap seseorang. Domain psikomotorik berkaitan dengan perilaku dalam bentuk keterampilan-keterampilan motorik (gerakan pisik).

Pada Pembelajaran perubahan perilaku sebagai hasil belajar yang ingin dicapai ini dapat dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran atau rumusan kompetensi yang ingin dicapai dengan segala indikatornya. Contoh rumusan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang akan dicapai dalam pembelajaran: “Siswa dapat mengubah pecahan biasa ke dalam bentuk pecahan decimal dan mengurutkannya” Kata dapat mengubah merupakan perilaku hasil belajar yang akan dicapai dalam pembelajaran.

Belajar sebagai Pengalaman

Belajar adalah mengalami, dalam arti bahwa belajar terjadi karena individu berinteraksi dengan lingkungannya, baik lingkungan pisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan pisik adalah lingkungan di sekitar individu baik dalam bentuk alam sekitar (natural) maupun dalam bentuk hasil ciptaan manusia (cultural). Macam-macam lingkungan pisik yang bersifat natural antara lain pantai, hutan, sungai, udara, air, dan sebagainya. Bersifat cultural adalah buku, media pembelajaran, gedung sekolah, perabot sekolah, dan sebagainya. Adapun lingkungan sosial siswa diantaranya guru, orang tua, pustakawan, pemuka masyarakat, kepala sekolah, dsb.

Lingkungan pembelajaran yang baik ialah lingkungan yang merangsang dan menantang siswa untuk belajar. Guru yang mengajar tanpa menggunakan alat peraga tentu kurang merangsang / menantang siswa untuk belajar. Apalagi bagi siswa SD yang perkembagan intelektualnya masih mebutuhkan alat peraga. Semua lingkungan yang diperlukan untuk belajar siswa ini didesain secara integral akan menjadi bahan belajar dan pembelajaran yang efektif.

Belajar merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat pelbagai unsur yang saling terkait sehingga menghasilkan perubahan perilaku (Gagne, 1997: 4). Beberapa unsur yang dimaksud adalah:

a.    Peserta didik

b.    Rangsangan (stimulus)

c.    Memori

d.   Respon.

Kegiatan belajar akan terjadi pada diri peserta didik apabila terdapat interaksi antara stimulus dengan isi memori, sehingga perilaku berubah dari waktu sebelum dan setelah adanya stimulus tersebut. Apabila terjadi perubahan perilaku, maka perubahan perilaku itu menjadi indikator bahwa peserta didik telah melakukan kegiatan belajar.

Belajar dapat dilakukan melalui pengalaman langsung maupun pengalaman tidak langsung. Siswa yang melakukan eksperimen adalah contoh belajar dengan pengalaman langsung. Sedang siswa belajar dengan mendengarkan penjelasan guru atau membaca buku adalah contoh belajar melalui pengalaman tidak langsung.

Agar kegiatan belajar mencapai hasil yang maksimal, ada hal penting yang harus diperhatikan dan diupayakan. Hal penting ini merupakan pedoman atau ketentuan yang harus dijadikan pegangan dalam pelaksanaan kegiatan belajar kita sebut sebagai prinsip-prinsip belajar. Prinsip belajar inilah yang dapat menentukan proses dan hasil belajar.



C. ciri-ciri belajar

Berdasarkan rumusan  diatas bahwa Belajar dalam arti luas, meliputi keseluruhan proses perubahan individu, perubahan itu meliputi keseluruhan topik kepribadian, intelektual maupun sikap, baik yang tampak maupun yang tidak.

Ciri ciri belajar meliputi:

Perubahan yang bersifat fungsional, perubahan yang terjadi pada ospek kepribadian seseorang yang mempunyai dampak terhadap perubahan selanjutnya. Karena belajar anak dapat membaca, karena membaca pengetahuannya bertambah, karena pengetahuannya bertambah akan memengaruhi sikap dan perilakunya.

Belajar terjadi melalui pengalaman yang bersifat individual. Hanya terjadi apabila dialami sendiri oleh yang sangkutannya, dan tidak dapat digantikan oleh orang lain.cara memahami bersifat individualistik,yang pada gilirannya juga akan menimbulkan hasil yang  bersifat pribadi.

Perubahan yang bersifat menyeluruh dan terintregasi. Yang berubah bukan bagian bagian dari diri seseorang, namun yang berubah adalah kepribadiannya.kepandaian menulis bukan dialokasikan tempat saja. Tetapi menyangkut ospek kepribadian lainnya, dan pengaruhnya akan dapat pada perubahan perilaku yang bersangkutan.


2.2 Jenis – jenis belajar

Berkenaan dengan proses belajar yang terjadi pada diri siswa, Gagne (1985) mengemukakan delapan jenis belajar adalah :

Belajar Isyarat ( signal Learning )

Belajar melalui isyarat adalah melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena adanya tanda atau isyarat. Misalnya berhenti berbicara ketika mendapat isyarat telunjuk menyilang mulut sebagai tanda tidak boleh ribut;  atau berhenti mengendarai sepeda motor di perempatan jalan pada saat tanda lampu merah menyala. 





2. Belajar Stimulus-Respon (Stimulus-Response Learning) 

Belajar stimulus-respon terjadi pada diri individu karena ada rangsangan dari luar. Misalnya, menendang bola ketika ada bola di depan kaki, berbaris rapi karena ada komando, berlari karena mendengar suara anjing  menggonggong di belakang, dan sebagainya.


3. Belajar Rangkaian (Chaining Learning) 

Belajar rangkaian terjadi melalui perpaduan berbagai proses stimulus respon (S-R) yang telah dipelajari sebelumnya sehingga melahirkan perilaku yang segera atau spontan seperti konsep merah-putih, panas-dingin, ibu-bapak, kaya-miskin, dan sebagainya.


4. Belajar Asosiasi Verbal (Verbal Association Learning) 

Belajar asosiasi verbal terjadi bila individu telah mengetahui sebutan bentuk dan dapat menangkap makna yang bersifat verbal. Misalnya perahu itu seperti badan itik atau kereta api seperti keluang (kaki seribu) atau wajahnya seperti bulan kesiangan. 


5. Belajar Membedakan (Discrimination Learning) 

Belajar diskriminasi terjadi bila individu berhadapan dengan benda, suasana, atau pengalaman yang luas dan mencoba membeda-bedakan hal-hal yang jumlahnya banyak itu. Misalnya, membedakan jenis tumbuhan atas dasar urat daunnya, suku bangsa menurut tempat tinggalnya, dan negara menurut tingkat kemajuannya. 


6. Belajar Konsep (Concept Learning) 

Belajar konsep terjadi bila individu menghadapi berbagai fakta atau data yang kemudian ditafsirkan ke dalam suatu pengertian atau makna yang abstrak. Misalnya, binatang, tumbuhan dan manusia termasuk makhluk  hidup; negara-negara yang maju termasuk developed-countries; aturan-aturan  yang mengatur hubungan antar-negara termasuk hukum internasional. 




7. Belajar Hukum atau Aturan (Rule Learning) 

Belajar aturan/hukum terjadi bila individu menggunakan beberapa rangkaian peristiwa atau perangkat data yang terdahulu atau yang diberikan sebelumnya dan menerapkannya atau menarik kesimpulan dari data tersebut menjadi suatu aturan. Misalnya, ditemukan bahwa benda memuai bila dipanaskan, iklim suatu tempat dipengaruhi oleh tempat kedudukan geografi dan astronomi di muka bumi, harga dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan, dan sebagainya. 


8. Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving Learning) 

Belajar pemecahan masalah terjadi bila individu menggunakan berbagai konsep atau prinsip untuk menjawab suatu pertanyaan, misalnya, mengapa harga bahan bakar minyak naik, mengapa minat masuk perguruan tinggi menurun. Proses pemecahan masalah selalu bersegi jamak dan satu sama lain saling berkaitan. 


Urutan jenis-jenis belajar tersebut merupakan tahapan belajar yang bersifat hierarkis. Jenis belajar yang pertama merupakan prasyarat bagi berlangsungnya jenis belajar berikutnya. Seorang individu tidak akan mampu melakukan belajar pemecahan masalah apabila individu tersebut belum menguasai belajar aturan, konsep, membedakan, dan seterusnya.














2.2 Jenis jenis belajar

Jenis-Jenis Belajar

Dilihat dari tujuan dan hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan belajar, para ahli umumnya mendefiniskan delapan jenis belajar (Saodih & Surya, 1971; Syah 1995; Effendi & Praja, 1993) yaitu sebagai berikut :


1. Belajar Abstrak (Abstract Learning)


Belajar abstrak pada dasarnya adalah belajar dengan menggunakan suatu cara “ cara berpikir abstrak. Tujuannya yaitu untuk memperoleh suatu pemahaman serta pemecahan yang tidak nyata. Dalam mempelajari suatu hal “ hal yang abstrak peranan akal atau rasio sangatlah penting. Begitu pula dengan penguasaan atas suatu prinsip “ prinsip dan konsep “ konsep. Termasuk dalam jenis ini, Conohnya, belajar tauhid, astronomi, kosmografi, kimia, dan amtematika.


2. Belajar Keterampilan (Skill Learning)

Belajar keterampilan yaitu suatu proses belajar yang bertujuan untuk memperoleh sebuah keterampilan tertentu dengan menggunakan suatu gerakan “ gerakan motorik. Dalam belajar jenis ini, proses pelatihan yang intensif dan teratur sangat diperlukan. Termasuk belajar dalam jenis ini, yaitu misalkan belajar cabang “ cabang olahraga, melukis, memperbaiki benda “ benda elektronik. Bentuk belajar keterampilan ini disebut juga dengan latihan atau training.


3.Belajar Sosial (Social Learning)

Belajar sosial ialah belajar yang bertujuan untuk memperoleh sebuah keterampilan dan pemahaman terhadap suatu masalah – masalah sosial, penyesuaian terhadap nilai “ nilai sosial dan sebagainya. Contoh dalam belajar jenis ini yaitu belajar memahami suatu masalah keluarga, masalah penyelesaian konflik antaretnis atau antarkelompok, dan suatu masalah “ masalah lain yang bersifat sosial.




4. Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Belajar pemecahan masalah pada dasarnya yaitu belajar untuk memperoleh sebuah keterampilan atau kemampuan untuk memecahkan berbagai suatu masalah secara logis dan rasional. Tujuannya ialah untuk memperoleh suatu kemampuan atau kecakapan kognitif guna untuk memecahkan masalah secara tuntas. Untuk itu, kemampuan individu dalam menguasai berbagai konsep, prinsip, serta generalisasi, amat sangat diperlukan.


5.Belajar Rasional (Rational Learning)

Belajar rasional yaitu belajar dengan menggunakan suatu kemampuan berpikir secara logis atau sesuai dengan akal sehat. Tujuannya yaitu untuk memperoleh beragam kecakapan yang menggunakan prinsip “ prinsip dan konsep “ konsep. Jenis belajar ini berkaitan erat dengan belajar dalam pemecahan masalah. Dengan belajar rasional, individu diharapkan mempunyai suatu kemampuan rational problem solving, yaitu kemampuan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan sebuah pertimbangan dan strategi akan sehat, logis, dan sistematis.


6. Belajar Kebiasaan (Habitual Learning)

Belajar kebiasaan yaitu suatu proses pembentukan kebiasaan baru untuk perbaikan kebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan sebuah perintah, keteladanan, serta pengalaman khusus, juga menggunakan hukum dan ganjaran. Tujuannya agar individu mendapatkan sikap dan kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan lebih positif, dalam arti selaras dengan sebuah kebutuhan ruang dan waktu atau yang sifatnya kontekstual.


7. Belajar Apresiasi (Appreciation Learning)

Belajar apresiasi pada dasarnya ialah belajar untuk mempertimbangkan nilai atau arti penting suatu objek. Tujuannya agar individu mendapatkan dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (effective skills), dalam hal ini kemampuan dalam menghargai secara tepat, arti penting objek tertentu, misalnya yaitu apresiasi sastra, apresiasi musik, dan apresiasi seni lukis.


8. Belajar Pengetahuan (Study)

Belajar pengetahuan dimaksudkan yaitu sebagai belajar untuk mendapatkan sejumlah pemahaman, pengertian, informasi, dan sebagainya. Belajar pengetahuan juga bisa diartikan sebagai suatu program belajar terencana untuk menguasai suatu materi pelajaran dengan melibatkan suatu kegiatan investigasi atau penelitian dan eksperimen. Tujuan belajar pengetahuan yaitu agar individu mendapatkan atau menambah suatu informasi dan pemahaman terhadap suatu pengetahuan tertentu, yang biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya, misalnya yaitu dengan menggunakan sebuah alat laboratorium.


2.3 faktor yang mempengaruhi belajar

Menurut Frandsen (Suryabrata, 1984: 257) belajar dipengaruhi oleh:

a. Adanya sifat ingin tahu yang ingin menyelidiki dunia yang lebih luas;

b. Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk selalu maju;

c. Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru dan teman-teman;

d. Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan kompetisi;

e. Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran;

f. Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir dari pada belajar.


Maslow (Suryabrata, 1984: 258) mengemukakan motif-motif untuk belajar, yaitu:

a. Adanya kebutuhan fisik

b. Adanya kebutuhan akan rasa aman, bebas dari kekhawatiran

c. Adanya kebutuhan akan kecintaan dan penerimaan dalam hubungan dengan orang lain

d. Adanya kebutuhan untuk mendapat kehormatan dari masyarakat

e. Sesuai dengan sifat untuk mengemukakan atau mengetengahkan diri





Syah (1999: 132) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa ada tiga macam, yaitu:

1. Faktor Internal Siswa

a. Aspek Pisiologis

Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Perubahan pola makan-minum dan istirahat akan menimbulkan reaksi tonus yang negatif dan merugikan semangat mental siswa itu sendiri.

Kondisi organ-organ khusus siswa, tingkat indera pendengar dan indera penglihat sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan khususnya yang disajikan di kelas. Untuk mengatasi kemungkinan timbulnya masalah mata dan telinga itu seyogyanya selaku guru yang profesional harusnya bekerjasama dengan pihak sekolah untuk memperoleh bantuan pemeriksaan rutin (periodik) dari dinas-dinas kesehatan setempat. Kiat lain adalah dengan menempatkan mereka di deretan bangku terdepan secara bijaksana tanpa harus menyampaikan kekurangan siswa tersebut di depan kelas. Jangan sampai mempengaruhi mental anak tersebut.


 b. Aspek Psikologis

1. Intelegensi Siswa

Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tepat.


J.P Chaplin ( Mujib, 2002: 318) merumuskan tiga defenisi kecerdasan, yaitu: 1) Kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif, 2) kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, yang meliputi empat unsur seperti memahami, berpendapat, mengontrol dan mengkritik, 3) kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali.


Tingkat kecerdasan atau IQ siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Semakin tinggi tingkat IQ seseorang maka semakin besar peluangnya meraih sukses, begitupun sebaliknya. Di antara siswa-siswa yang mayoritas berinteligensi normal mungkin terdapat anak yang tergolong gifted child atau talented child, yakni anak yang cerdas dan anak yang sangat berbakat.


Sebagai seorang guru yang profesional harus mampu membaca kondisi Inteligensi anak didiknya. Agar tidak terjadi kesenjangan dalam belajar. Anak yang cerdas juga tidak terhalang oleh temannya yang lamban dalam berfikir.


Sikap Siswa

Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dsb baik secara positif maupun negatif.

Untuk mengantisipasi sikap negatif siswa, guru dituntut untuk terlebih dahulu menunjukkan sikap positif terhadap dirinya sendiri terhadap mata pelajaran yang menjadi tugasnya. Dengan meyakini manfaat bidang studi tertentu, siswa akan merasa membutuhkannya, dan dari perasaan butuh itulah diharapkan muncul sikap positif terhadap bidang studi tersebut sekaligus terhadap guru yang mengajarkannya.


Bakat Siswa

Secara umum, bakat adalah kemamuan potensional yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dalam perkembangan selanjutnya bakat kemudian diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Sehubungan dengan itu, bakat akan dapat mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajr bidang-bidang studi tertentu. Olehnya itu sangat tidak bijaksana orang tua yang memaksakan anaknya untuk memilih jurusan-jurusan keahlian kehendaknya tanpa mengetahui lebih dulu bakat yang dimiliki oleh anaknya. Ini akan berdampak buruk terhadap kinerja akademik atau prestasi belajarnya.


Setiap pembelajar, tentu memiliki kekhasan tertentu yang berbeda dengan pembelajar lain, oleh karena itu, dalam belajar seorang pembelajar haruslah mengembangkan kekhasan-kekhasan yang dimiliki. Keterampilan personal yag secara khas dimiliki oleh pembelajar. Pembelajar akan berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan ciri khas atau karakteristik yang ada padanya.


Minat

Secara sederhana minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Seorang siswa yang menaruh minat besar terhadap pelajaran Sains akan memusatkan perhatiannya lebih banyak daripada siswa lainnya. Kemudian karena pemusatan itu akhirnya siswa lebih giat dan akhirnya mendapatkan prestasi yang baik. Guru dalam hal ini seyogyanya membangkitkan minat yang dimiliki oleh anak didiknya.

Motivasi 

Siswa Motivasi adalah keadaan internal seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Motivasi terbagi atas dua macam, yaitu: 1) Motivasi Intrinsik; 2) Motivasi Ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Motivasi ekstrinsik adalah hal yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar.

Faktor Eksternal

Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi 

belajar seseorang yang sifatnya berasal dari luar diri seseorang tersebut. Yang termasuk faktor-faktor ekstern antara lain:

a) Keadaan lingkungan keluarga

b) Keadaan lingkungan sekolah

c) Keadaan lingkungan masyarakat





BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan atau usaha yang disadari untuk meningkatkan kualitas kemampuan atau tingkah laku dengan menguasai sejumlah pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap. Dengan adanya unsur unsur dalam belajar yang dapat menunjang faktor belajar sehingga dapat mempengaruhi bagaiamana faktor belajar seorang anak baik faktor internal maupun eksternalnya..


 SARAN

Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari banyaknya kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka penulis berharap kritikan yang membangun agar dapat menjadi lebih baik dalam penulisan makalah untuk kedepannya






















DAFTAR PUSTAKA


Djamarah,Syaiful Bahri.2002. Psikologi Belajar.Jakarta.Rineka Cipta.

Imran, Ali. 1996. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Pustaka Jaya.

Suard,Mohammad.2018. Belajar dan Pembelajaran.Yogyakarta.Deepubliss.

Mujib, Abdul. 2002. Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Suryabrata, Sumadi. 1984. Psikologi Pendidikan. Jakarta: CV. Rajawali.

Winata putra, Udin S. 1990. Hakikat belajar dan Pembelajaran.Yogyakarta.Deepublis.

Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENDIDIKAN, STRATIFIKASI SOSIAL DAN PERUBAHAN SOSIAL

Riview hasil penelitian podcas sebagai media pembelajaran PAI