PENDIDIKAN, STRATIFIKASI SOSIAL DAN PERUBAHAN SOSIAL
SOSIOLOGI PENDIDIKAN
“PENDIDIKAN, STRATIFIKASI SOSIAL DAN PERUBAHAN
SOSIAL”
Dosen Pengampu :
Fitri Amaliyah Batubara, S.Pd.,
M.Pd
DISUSUN
OLEH:
HALIMAH SYAFIRA IRWANMAY 1810110019
MARHAMAH 1810110025
DEWI
AGUSTIN 1810110028
SYAFRIDA
R. BARUS 1810110035
FADILLAH
BR. HUTABARAT 1810110182
PROGRAM
SARJANA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
AGAMA ISLAM & HUMANIORA
UNIVERSITAS
PEMBANGUNAN PANCA BUDI MEDAN
2019
KATA
PENGANTAR
Assalamuálaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji dan syukur kami sampaikan kepada Allah SWT, yang
telah memberikan karunia – Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah ini.
Dan ada pula isi makalah ini ialah : PENDIDIKAN, STRATIFIKASI SOSIAL DAN PERUBAHAN SOSIAL dimana BAB I Pembahasan, BAB II Penutup, dan Daftar
Pustaka. Sebelumnya kami berterimakasih kepada Dosen Pengampu Ibu Fitri
Amaliyah Batubara, S.Pd., M.Pd yang telah memberi tahu kami bagaimana cara
membuat makalah ini dengan baik dan benar sehingga jadilah makalah kami ini.
Untuk mengakhiri sebelumnya kami mohon maaf apabila makalah yang kami buat ini
belum mencapai kata sempurna atau memiliki kesalahan dalam penulisannya untuk itu, kami mengharapkan kritik serta saran dari Ibu
untuk makalah ini, agar makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih
baik lagi.
Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini
kami mohon maaf yang sebesar-besarnya sekiranya Ibu dapat memakluminya karena kami pun masih dalam tahap
pembelajaran, kami ucapkan Terimakasih.
Wassalamuálaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Medan,
22 September 2019
Kelompok 4
Daftar Isi
Kata
Pengantar......................................................................................... i
Daftar
Isi....................................................................................................ii
Bab
I Pembahasan................................................................................... 1
A. Stratifikasi Sosial
B. Hierarki Kelas dan Realitas Sosial
C.
Pendidikan
dan Perubahan Sosial
Bab
II Penutup......................................................................................14
A. Kesimpulan
B. Saran
Daftar
Pustaka...................................................................................... 15
BAB I
PEMBAHASAN
Pendidikan Dan Stratifikasi Sosial
Ahli
sosiologi berpendapat bahwa dalam semua masyarakat memiliki ketidaksamaan di
berbagai bidang, Misalnya
dalam bidang ekonomi, sebagian
anggota masyarakat memiliki kekayaan yang
berlimpah dan kesejahteraan hidup yang terjamin, sedangkan sebagian lainya
dalam keadaan miskin dan tidak sejahtera, Pada
bidang politik sebagian orang memiliki kekuasaaan dan sebagian lainya dalam
keadaan di kuasai. Ini
realitas sosial dalam masyarakat, yang dapat ditangkap oleh pemerintah dan daya
pikir manusia. Perbedaan anggota masyarakat seperti ini dinamakan stratifikasi
sosial (social stratification).
Pendidikan, dalam hal ini, memiliki peranan strategis dalam membentuk
stratifikasi sosial.
A.
Stratifikasi
Sosial
Stratifikasi
sosial adalah sebuah konsep yang menunjukan adanya perbedaan dan atau
pengelompokan suatu kelompok sosial (komunitas) secara
bertingkat. Misalnya dalam komunitas tersebut terdapat strata tinggi, strata
sedang, dan strata rendah.
Stratifikasi
sosial merupakan gejala sosial yang tidak dapat dihindari dan terdapat di
setiap masyarakat manapun di dunia ini Masyarakat yang menganut system sosial
terbuka memiliki kesempatan luas untuk berusaha naik ke tangga sosial yang
lebih tinggi. Gejala naik turunnya
tangga pelapisan sosial ini tidak terdapat dalam masyarakat yang menganut system
pelapisan sosial tertutup.
Teori – teori dan penemuan tentang perbedaan
individu memberikan sejumlah anjuran tentang cara mengeliminasi perbedaan, yakni
: program nutrisi dan stimulasi harus diberikan pada anak – anak yang berasal
dari keluarga berpenghasilan rendah : penciptaan mekanisme sosial yang
mendukung pembelajaran secara kontektual, disesuaikan dengan perbedaan masing –
masing mengadakan program remidiasi dua tahap dan pengembangan profesionalisme
pendidik / guru dalam upaya
meningkatan pembelajaran. Sifat system pelapisan di masyarakat, menurut
soekanto (1990) dapat bersifat tertutup dan terbuka. hal ini dapat di jelaskan
bahwa :
Pertama,
sistem tertutup ,dimana membatasi kemungkinan berpindahnya seorang dari lapisan
ke lapisan lain, baik berupa gerak atas ataupun
gerak ke bawah. Didalam system yang demikian, satu satunya jalan menjadi
anggota suatu lapisan dalam masyarakat adalah kelahiran
Kedua
system terbuka : yang mana masarakat di dalamnya memiliki kesempatan untuk
beruaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan.
Secara
historis, setidaknya ada
tempat basis system stratifikasi yang eksis dalam masyarakat manusia : Perbudakan (slavari),
Kasta (Caste),
Kepemilikan tanah (Estates),
dan Kelas (Class)
yang dapat di jelaskan :
Pertama
Perbudakan (slavary): Pada system
seperti ini masyarakat di bagi menjadi dua kategori: Pemilik budak dan budak, Dimana seorang atau sekelompok orang
dimiliki oleh seorang Salah satu sebab adanya budak adalah perang, dimana yang
kalah menjadi tawanan kerja paksa.
Kedua
Kasta (Caste): bertalian dengan kepercayaan bangsa
india dimana mereka percaya renkarnasi bahwa manusia akan di lahirkan kembali
dan setiap orang wajib menjalani hidup sesuai kastanya. Setiap orang dalam
system ini mendapatkan system kasta keluarga mereka.
Ketiga,
kepemilikan tanah (estates), berhubungan dengan system feodal dimana
kedudukan seseorang dinilai dari berapa banyak memiliki tanah
Keempat,
kelas (class), yaitu pembagian
masyarakat atas ekonomi yang tercermin daam gaya hidup (life style) seorang .Stratifikasisosial lebih merujuk kepada
pembagian sekelompok ke dalam tingkatan – tingkatan atau status yang berjenjang
dan secara vertical. Kelas sosial lebih sempit lagi istilah kelas merujuk pada
suatu lapisan / status tertentu dalam sebuat
stratifikasi sosial, Orang orang yang berasal dari kelas sosial biasanya
memiliki orientasi politik, nilai dan budaya, sikap dan perilaku yang cenderung
sama.
Perubahan
sosial yang di alami masyarakat sejak zaman kemerdekaan sampai zaman revolusi
industry selanjutnya hingga sekarang secara mendasar dan menyeluruh telah
memperlihatkan pembagian kerja dalam masyarakat .
Latar
belakang munculnya stratifikasi sosial dapat di sebabkan adanya perbedaan
perlakuan dan penghargaan masyarakat terhadap suatu yang dimiliki. Sertiap
masyarakat memiliki suatu yang di hargai bisa berupa kepandaian, kekayaan,
kekuasaan, profesi, keaslian keanggotaan masyarakat dan lain sebagainya. Selama manusia
membedakan penghargaan terhadap suatu yang dimiliki tersebut pasti akan
menimbulkan lapisan – lapisan dalam masyarakat. Sebaliknya, bagi mereka yang
hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki sama sekali, maka mereka mempunyai kedudukan dan
lapisan/strata yang rendah.
Dilihat
dari sumber terjadinya stratifikasi sosial, sejumlah
ahli sosiologi mengatakan ;
(1) PA
Sorikin stratifikasi sosial bersumber dari distribusi atau pembagian yang tidak
sama dalam hak, pembagian
tugas, kewajiban/tanggug jawab nilai nilai sosial, kekuatan sosial dan pengaruh
di antara anggota masyarakat .
(2) Selo
soemarjan : sumber stratifikasi sosial adalah sesuatu yang dihargai
tinggi/rendah oleh masyarakat, dalam hal uang, benda benda ekonomis, ilmu dan
lain sebagainya.
(3) Max
weber : Sumber sumber strata yang berbeda berkembangnya corak hidup yang
khusus, seperti tipe pekerjaan: kharisma dan otoritas pemilim dan / atau
birokrasi.
Untuk menentukan
golongan /kelompok kelompok sosial dapat diikuti tiga metode :
Metode Objektif :
merupakan stratifikasi sosial ditentukan berdasarkan kriteria objektif antara
lain : jumlah pendapat, lama
atau tinggi pendidikan dan jenis pekerjaan.
Metode Subjektif : Metode
ini menggunakan kelompok/golongan sosial dirumuskan berdasarkan pandangan
menurut anggota masyarakat menilai dirinya dalam hierarki kedudukan dalam
masyarakat itu.
Metode Reputasi : Metode ini dikembangkan W.I Warner. Menurut metode ini, golongan / kelompok sosial dirumuskan berdasarkan
bagaimana anggota masyarakat menempatkan masing – masing dalam stratifikasi
masyarakat itu.
Faktor –
faktor yang mempengaruhi Stratifikasi sosial ukuran atau kriteria yang menonjol
atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut
:
Pertama, ukuran kekayaan. Kekayaan
(materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke
dalam lapisan – lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling
banyak maka ia akan termasuk lapisan teratas dalam pelapisan sosial, demikian
pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke
dalam lapisan rendah. Kekayaan tersebut dapat di lihat antara lain pada bentuk
tempat tinggal, benda – benda tersier yang di milikinya, cara berpakaiannya,
maupun kebiasan dalam berbelanja.
Kedua, ukuran kekuasaan dan
wewenang. Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan
menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang
bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab
orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang – orang lain
yang tidak kaya, atau sebaliknya.
Ketiga, ukuran kehormatan. Dapat
terlepas dari ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang – orang yang di segani atau
di hormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial
masyarakatnya. Ukuran kehormatan itu sangat terasa pada masyarakat tradisional,
biasanya mereka sangat menghormati orang – orang yang banyak jasanya kepada
masyarakat, para orang tua ataupun orang – orang yang berperilaku dan berbudi
luhur. Ukuran atau kriteria yang menjadi dasar pembentukan pelapisan sosial
adalah ukuran ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu
pengetahuan akan menempati pelapisan paling tinggi dalam sistem pelapisan
sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya
terdapat dalam gelar – gelar akademik (kesarjanaan): atau profesi yang di
sandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, magister, doktor atau gelar
profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat – akibat negatif dari
kondisi ini jika gelar – gelar yang di sandang tersebut lebih di nilai tinggi
daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara
– cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan
membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.
B. Hierarki Kelas dan Realitas Sosial
Suatu kelompok kelas sosial
terdiri dari orang – orang
yang memiliki kebiasaan dan nilai – nilai yang sama. Di dalam suatu
komunitas kecil, keanggotaan
dari kelas sosial cenderung memiliki oraganisasi – organisasi yang sama dan menghibur satu
sama lain di rumah mereka. Jika mereka tinggal di kota – kota
besar, keanggotaan mereka begitu besar yang sebeulnya sedikit dari mereka dapat
berasosiasi satu sama lain.bahkan, kesulitan – kesulitan, mereka segera mengatur suatu
kesepakatan yang bagus dari persamaan dalam cara hidup mereka dan mengatur
persamaan lain sebagai kesamaan sosial.
Keberagaman kelas sosila diatur
kedalam suatu keseluruhan struktur hierarki. Daniel
U. Levin & Robert J. HAVIGHURST(1989) mengatakan:
The
various social classes are organized into an overall hierarchical structure. Most persons recognize that they
occupy a position on a social scale. They acknowledge that there are other
people and other groups that have more or less economic and political power or
social prestige than their owngroup. Within a particular community people can
rank themselves and
theior neighbors according to power
or prestige ; that is, they can assign different individuals to particular
positions on a social ladder.
Hal ini menjelaskan bahwa
keberagaman kelas sosilal diatur
ke dalam suatu struktur hierarki. Hampir
semua orang memandang bahwa mereka menempatkan suatu posisi dalam suatu skala
sosial. Mereka mengetahui bahwa di sana terdapat orang lain atau kelompok lain
yang kurang lebih kekuatan ekonomi dan politik atau prestise sosial dari
kelompok mereka sendiri. Dalam suatu komunitas
tertentu, orang – orang dapat menempatkan mereka sendiri
dan tetangga mereka menurut prestisa dan kekuatan: yakni mereka dapat meyetujui
perbedaan individu untuk posisi tertentu pada suatu masyarakat. Semua level
masyarakat besar atau kecil menunujukkan fenomena tingkatan (rank) : pemimipin dan masyarakat yang
berprestise tinggi menempatkan pada posisi – posisi menengah; dan yang lainnya
menempatkan pada posisi bawah pada skala sosial. Sedikit berhubungan dengan
bentuk atau format dari emerintah. Suatu
demokrasi memiliki tingkatan(rank); sehingga posisi orang di Uni Soviet (ketika itu), bahwa
orang tertinggi posisinya di Uni Soviet adalah para pemimipin partai komunis
dan petinggi pemerintah, dan pejabat militer. Dalam suatu sistem demokrasi
orang-orang pada level tertinggi adalah mereka yang memiliki kekuatan ekonomi
dan prestise sosial.
Dalam mempelajari struktur
sosial, para ahli sosiologi memilih untuk menjelaskan satu atau dimensi lainnya
dengan melakukan studi stratifikasi social (social stratification).
W. LIoyd warner, Meeker, dan Eells (1960) meneliti tenang dinamika komunitas
yoganisasi, yakni mereka memfokuskan pada
prestise dan bentuk – bentuk interaksi sosial yang mengatur kehidupan sosial pada
suatu komunitas. Produser lazim adalah ilmuwan sosial unutk bergerak ke dalam
suatu komuitas dan
hidup di sana pada suatu waktu, berbicara dengan
orang lain dan mengamati kehidupan sosial. Peneliti memperoleh kelompok – kelompok
sosial dan bertanya tentang struktur sosial dari suatu komunitas ilmuwan sosial
mempelajari tentang siapa berhubungan
dengan siapa, siapa yang di pertimbangakan
sebagai posisi teratas, siapa yang dibawah, dan mengapa. Secara perlahan,
peneliti menunjukkan suatu gambaran komposisi tunggal yang mempresentasikan konsensus.
Gambaran ini menunjukkan kelompok – kelompok yang mengatur dalam suatu
jaringan sebagaimana halnya pada suatu gejala sosial, dari yang tertinggi (top)
ke yang terendah (bottom) dalam bentuk – bentuk
dari status yang mereka oleh warga mereka. Setelah garis – garis
umum dari struktur sosial telah diperoleh dan posisi – posisi
dari orang tertentu telah disetujui sanagt mungkin untuk menempatkan orang lain
dalam hubungannya dengan
orang asli (original people).
Akhirnya, mayoritas dari populasi dapat dilokasikan pada pemetaan sosila dalam
cara ini.
Metode pemetaan sistem sosial dan
penemuan kelas sosial dari partisipasi seorang disebut method of evaluated social participation,
sering disingkat E.D. Pertama, dengan
melakukan wawancara terhadap anggota – anggota komunitas, garis – garis
besar dari struktur sosial diperoleh,
dan nama – nama
di peroleh dari sedikit orang yang
diwawncarai setuju menempatkan posisi yang diberikan dalam struktur. Hal itu,
selanjutnya, dicatat bahwa dengan siapa orang – orang tersebut berhubungan dengan klub – klub
sosial, klik – klik sosial informal, klub – klub
pelayan, asosiasi – asosiasi peribadatan, dan lain
sebaginya. Sehingga orang lain yang ditempatkan dalam hubungan mempresentasikan
konsensus. Gambaran ini menunjukkan kelompok – kelompok yang mengatur dalam suatu
jaringan sebagaimana halnya pada suatu gejala sosial, dari yang tertinggi (top)
ke yang terendah (bottom) dalam
bentuk – bentuk
dari status yang mereka oleh warga mereka. Setelah garis – garis
umum dari struktur sosial telah diperoleh dan posisi – posisi
dari orang tertentu telah disetujui sangat
mungkin untuk menempatkan orang lain dalam hubungannya dengan orang asli (original people). Akhirnya, mayoritas dari populasi dapat di lokasikan pada pemetaan sosial dalam
cara ini.
Jika ilmuwan sosial berharap unutk
mengetahui status sosial dari Mr. X, di mana tidak dibawa ke dalam penelitian,
peneliti akan menanyakan siapa
teman Mr. X, klub dan asosiasi apa yang dia miliki. Kemudian, ditemukan bahwa
Mr. X telah dekat dengan salah satu kelompok
yang telah di defenisiskan
dalam pemetaaan sosial. Partisipasi sosial Mr. X kemudian dievaluais dalam
hubungannya dengan orang lain dalam komunitas dan tempatnya dalam struktur
sosial talah ditentukan. Mereka yang menempati tingkatan tinggi ditempatkan
pada status sosial yang tinggi (upper
class) dan mereka yang
menempati tingkatan rendah dipertimbangkan pada kelas rendah (lower class), dengan kemungkinan banyak
kelas social atau level
status sosial, di antaranya, perempuan/wanita dan anak – anak
secara umum di sepakati skor kelas sosial dari kepala
rumah tangga laki-laki.
Kebanyakan
tentang riset status sosial atau kelas sosial hanya menggunakan satu atau dua
dari kemungkinan status sosial dalam kategori individu dalam beberapa skala
status. Satu dari sejumlah pendekatan yang digunakan dengan menanyakan
responden dengan indikator pekerjaan dan pendidikan denagn menggunakan ketegori
yang ditawarkan August Hollingshead (1957) sebagian dari dua faktor Index dari
posisi social: responden kemudian ditempatakan dalam kategori kelas sosial I (hight) hingga
v (low). Banyak studi lainnya, hanya
menggunakan status sosial seperti skala North-Hatt (Reiss, 1961), yang
menenmpatkan pekerjaan – pekerjaan pada suatu skala 8 (shoe
shiner) ke-93 (supreme court justice) , khususnya ketika pengukuran – pengukuran
lain dari posisi –
posisi sosial sulit diperoleh untuk suatu sampel yang kasar. Pada tahun – tahun
terakhir, beberapa studi tentang anak – anak dari kepala keluarga berjenis kelamin perempuan di tetangga miskin
telah menggunakan pendidikan ibu sebagai alat ukur kelas sosial karena informasi
lainnya tidak di peroleh.
Para peneliti sering menjustifikasi
dan hanya menggunakan satu atau dua pengukuran dari status sosial, karena
pekerjaan, pendidikan,
pendaatan, rumah/tetangga, dan variable status sosial lainnya hanya secara umum
dikorelasikan satu sama lain. Pendapatan, sebagai contoh, adalah bagian dari
suatu fungsi pekerjaan, dan sejumlah dari pada pendidikan membantu menentukan
pendapatan dan pekerjaan seorang. Penelitian yang dialakukan Hope (1982)
mengidentifikasikan bahwa skor – skor prestise pekerjaan sebagiannya di dasarkan pada keyakinan penghargaan
ekonomi orang, yang
diasosiasikan dengan suatu pekerjaan dan niali – nilai diberikan kepada masyarakat. Ahli
fisika, sebagai contoh, menemptakan tingkatan
(rank) yang lebih tinggi pada kedua
ukuran tersebut. Tidaklah mengherankan bila prestise pekerjaan secara signikan
berkorelasi dengan pendapatan.
Treiman (1977) melakukan penelitian
tentang studi lintas nasional, di mana temuannya menunjukkan berikut : pertama,
pekerjaan yang memilki prestise yang tinggi di Negara lain, berhubungan dengan
perbedaan karekteristik dalam politik, sosial, dan ekonomi. Kedua, dalam lintas
negara, terdapat hubungan / korelasi yang tinggi antara status
pekerjaan dan pendidikan; dan Antara status pekerjaan
dan pendapatan. Ketiga, suatu standar internasional skal pekerjaannya memliki
korelasi yang tinggi dengan skor – skor dari skala – skala
pekerjaan lokal yang berkembang pada Negara – negara tertentu. Keempat, status
pekerjaan menunjukkan stabil sepanjang waktu. Walaupun tempat banyak perubahan
dalam tipe – tipe pekerjaan dimana orang – orang
telah bekerja pada priode searah pekerjaan berbeda, pekerjaan terus eksis untuk
sepanjang priode waktu pada umumnya di bawah relative sedikit perubahan dalam
status. Kelima, hubungan dekat antara pekerjaan dan pendapatan/kekayaan juga
telah sangat stabil sepanjang waktu. Misalnya, data pendapatan keterkaitan dengan perbedaan pekerjaan di Amerika
Serikat, di mana pada 1776 bertalian kuat dengan data 1890, dengan data pendapatan
berhubungan dengan pekerjaan di London pada 1870, dengan pendapatan dengan
pekerjaan di inggris pada 1888, dan dengan data pendapatan pada Florentine pada
1427.
Hal ini penting untuk dicatat
bahwa mengukur status pekerjaan dan indikatir – indikator status lainnya adalah tidak
sama persis, seperti mengukur kelas sosial. Terminology kelas sosial (social class) merujuk pada kelompok – kelompok
besar dari sejumlah orang yang memilki politik dantujuan ekonomi dan keinginan
dengan posisi mereka dalam struktur sosial. Barang kali, konsep sosial yang
paling berpengaruh adalah konsep Karl Marx dan para pengikutnya, yang telah membuat pehatian pada
capitalist (mereka orang yang mengontrol
sejumlah besar modal; beourgeoisie
[ orang – orang
kelas menengah (middle class) ]
dengan jumlah property signififkan dan sejumlah control terhadap investasi,
cara – cara
produksi, kekuatan – kekuatan pekejaan lainnya; ploretariat
(pekerjaan manual dengan tidak ada control property dan produksi);
lumpenroletariat (sangat miskin, pekerja tanpa keteramilan); dan intelligentsia
(orang-orang berpengaruh dan kekayaan berasal dari bekerja dengan ilmu
pengetahuan dari pada barang-barang materiil).
Pada awal priode indrustri, mayoritas
individu dalam kebanayakan masyarakat adalah para proletarian dengan sedikit
control terhadap produksi atau kekuatan – kekuatan kerja mereka sendiri. Perhatian
yang fundamental antara kelas sosisal dalam hampir semua konseptualisasi yang
terjadi antara pekerja – pekerja manual, yang relative tidak memiliki
keterampilan dan memiliki sedikit kekuatan untuk memengaruhi keputusan – keputusan
ekonomi dan pekerja bukan manual relative memilki pendidikan bagus, status
pekerjaan, yang setidaknya memegaruhi keputusan – keputusan persetujuan labor mereka. Jika kelas sosial sungguh eksiss dan
memiliki berbagai hal enting dalam menetukan
atau merefleksikan apa yang terjadi terhadap orang – orang,
kelas sosial harus lebih dekat berhubungan dengan berbagai ukuran seperti,
prestise pekerjaan. Yakni, mengetahui kelas sossial seorang sebagai contoh,
suatu klasifikasi menurut pekerjaan manual atau non-manual atau suatu klasifikasi kelas rendah taau
kelas kelas atas (lower class atau upper class) menurt prestise pekerjaan dan
pendidikan-harus lebih berhubungan kuat dengan perilaku dan hasil dari pada
suatu skor yang sederhana pada prestise pekerjaan. Suatu penelitian lanjutan menunjukkan bahwa kelas sosial adalah
suatu konsep yang berarti dari sudut pandang ini.
Terminologi yang digunakan untuk
mengategorikan kelas – kelas sosial,
perhatian antara status tinggi (upper/hight
status), menengah (middle), dan
rendah (lower) atau kelas pekerja.
Ahli sossiologi sering membedakan antara kelas pekerja rendah (lower-working
class) dan kelas pekerja tinggi (upper-working classs), dan antara kelas rendah menengah (upper-middle class). Dalam banyak
kasus, suatu perhatian juga dibuat antara kelas tinggi – tinggi
(upper-upper class), dan kelompok kelas rendah tinggi (lower-upper class groups). Sejumlah
pengamat beragumen bahwa suatu kelas baru (a
new class) telah muncul memiliki interest ekonomi dan politik tertentu dan
bentuk – bentuk
cultural dlam masyarakat modern, masyarakat pasca indrutri.
Brusce-briggs (1979) dalam
Daniel U. Levine dan Robert J. Havighurst (1989)
mengidentifikasi tiga kelompok besar yang saling tumpang tindih yang telah
didentifikasi sebagai ”kelas
baru” (a new class): pertama, kelas
menengah baru (the
new middle class) yang terdiri dari pekerja kulit putih (white
collar workers) yang secaara umum tidak dibayar tinggi,
tetapi telah memiliki akses untuk mengamankan dan
secara fisik bukan pekerjaan yang diminta melalui pendidikan. kedua, para
manajer yang memilki property dari
korporasi untuk pekerjaan mereka, seperti dilakukan para kapitalis pada
era-indrustri. Ketiga, kelompok yang dikatakan sebagai “earning its living” atau
menggunakan belajar, khusunya
kemampuan untuk menggunakan kata – kata.
Hubungan antara belakang pendidikan dimiliki
masyarakat dan ketidaksamaan struktural sosial (social structural inequality) tidak dapat meghilangkan
ketidaksamaan struktur sosial-ekonomi pada suatu banyak kalangan anak mudanya
memiliki latar
belakang pendidikan lebih tinggi, katakanlah tamatan Univeritas, tetapi tidak
serta terdapat memperoleh akses,
memperoleh pekerjaan dengan pendapatan yang memadai, sehingga
diharapkan dapat megubah struktur sosial-ekonomi
kearah lebih tinggi.
Bagi kalangan kelompok
masyarakat dari kelas bawah (low class)
akan sangat berarti bila
setelah memperoleh penndidikan
tinggi mememliki akses memperoleh pekerjaan, sehingga dapat mengubah struktur
sosial yang sering kali diukur dengan tingkat pendapatannya. Akses untuk berbagai bentuk status pekerjaan juga akan menyulitkn bila
tidak memilih latar belakang pendidikan atau tidak menamatkan pendidikan tertentu,
katakanalah di perguruan
tinggi, di mana aksesnya akan terbatas hal ini menunjukkan bahwa ijazah,
tamatan pendidikan
di perguruan tinggi,
kalaupun
tidak selalu mudah memperoleh akses langsung dalam status pekerjaan pada suatau
perusahaan/instansi, tetapi akan jauh lebih baik dan lebih berprospek dalam
memperoleh pekerjaan dibandingkan dengan mereka.
C. Penidikan dan Perubahan Sosial
a. Sebab dan Akibat Perubahan Sosial
Menurut Astrid S. Susanto, bahwa sebab sebab
perubahan masyarakat adalah banyak, yaitu :
- Majunya
ilmu pengetahuan (mental manusia)
- Teknik
serta penggunaannya di dalam masyarakat
- Komunikasi
dan transport
- Urbanisasi
- Perubahan
– perubahan dan pertambahan harapan serta tuntutan manusia (the rising demand).
Dari
sebab tersebut maka terjadilah hal sebagai
berikut :
Masyarakat
teknologi ditandai oleh adanya pembakuan kerja dan perubahan nilai. Yaitu,
makin dominan efisiensi dan produktifitas.
Dalam
masyarakat seperti ini hubungan sosial hanya dilihat dari sudut kegunaan (pragmatisme)
dan kepentingan semata. Keberadaan seseorang sangat ditentukan oleh sejauh mana
ia berfungsi bagi orang lain. Karena itu,
kemampuan seseorang secara individual sangat dibutuhkan. jadi dalam masyarakat seperti ini terjadi pergeseran pola hubungan sosial
dari (affection ke effective neutral),
sebagaimana dikatakan parson. Yakni perubahan dari hubungan yang mempribadi dan
emosional ke hubungan yang
tidak mempribadi dan berjarak.
Dalam
masyarakat seperti ini keberadaan seseorang sangat
ditentukan oleh seberapa banyak dan sejauh mana
ia menguasai informasi.
Yakni
masyarakat yang sepenuhnya berjalan
dan diatur oleh system yang terbuka (open system). Berbagai hal yang
terjadi akibat perubahan sosial ini harus diantisipasi, dan dijawab oleh dunia
pendidikan.
b. Kegunaan Memahami Perubahan Sosial bagi
Pendidikan
Pemahaman terhadap perubahan sosial bagi pendidikan adalah untuk
mengetahui akar persoalan perubahan dan bentuk apa yang harus dilakukan pada
masyarakat yang berubah tersebut. Sebagai contoh, dimasa sekarang, perilaku masyarakat yang jauh berubah adalah
dalam masalah pemakaian moralitas, maka yang diperlakukan dalam pendidikan
adalah pendidikan moral dengan mengedepankan tokoh – tokoh
rujukan. Selanjutnya dewasa ini, masyarakat Indonesia mengalami kegelisahan
yang mendalam. Kegelisahan tersebut dilatar belakangi oleh
pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali dan tidak mampu diimbangi dengan
daya dukung alam, sarana
prasarana kehidupan; social, ekonomi pendidikan, lapangan kerja, kesehatan, transportasi,
tempat tinggal, konflik social, radikalisme
yang mengatas namakan agama, dan
lain sebagainya.
Perubahan masyarakat secara berkelindan akan memengaruhi pilihan
masyarakat terhadap pendidikan. Pendidikan
yang akan dipilih masyarakat adalah pendidikan yang dapat mengembangkan kualitas[a1]
dirinya sesuai dengan perkembangan masyarakat sebaliknya pendidikan yang kurang
memberikan janji masa depan tidak akan mengundang antusiasme masyarakat. Maka
pendidikan yang akan dipilih masyarakat yang dapat memberikan kemampuan secara
teknologis fungsional, individual, informative, dan terbuka. Serta kemampuan secara etik dan
moral yang dapat dan dikembangkan.
A. Malik Fadjar mengatakan, bahwa dalam tataran normative filosofis, hingga
kini persoalan pendidikan islam masih berkutat pada perdebatan semantic, apakah
pendidikan Islam itu secara peristilahan menggunakan tarbiyah ta’did atau
ta’lim? dari segi muatan pendidikan Islam masih dihadapkan pada persoalan
dualisme-dikhotomi antara
ilmu – ilmu
agama, dan ilmu – ilmu umum.
Selain itu, pendidikan Islam masih belum
menuntaskan konsep – konsep normative yang berhubungan dengan cita
ideal manusia yang ingin dihasilkan. Pada tataran orientasi cultural perlunya
mempertegas kembali posisi dan peran pendidikan Islam. Dalam gerak tranformasi social cultural dan
structural yang demikian cepat dan bersifat universal seperti sekarang ini, pendidikan Islam tidak bisa lagi bertahan
dalam posisi dan perannya yang bersifat tradisional yang hanya menjalankan
fungsi konservator warisan budaya masalalu.
Selain itu, kata A.Malik Fadjar, pendidikan
Islam dituntut melakukan fungsi yang bersifat reflektif dan progesif. Dalam
fungsi yang pertama, pendidikan harus
mampu mengambarkan corak dan arus kebudayaan yang sedang berlangsung. Sedang dalam
fungsi yang kedua pendidikan Islam dituntut mampu memperbaharui dan
mengembangkan kebudayaan agar dicapai kemajuan. Pada fungsi yang kedua ini,
pendidikan Islam menjalankan kegiatan transformasinya.
Pada akhirnya demikian A. Malik
Fadjar berkesimpulan, bahwa pada akhirnya kita masih dituntut melakukan
pergumulan intelektual dengan mengerahkan seluruh potensi kita, sehingga
pendidikan Islam berperan
secara lebih optimal dan bukan sekadar sebagai papan nama yang hanya ingin
menunjukkan secara kelembagaan pendidikan Islam itu ada, tetapi dari segi
muatan dan orientasi masih sangat rapuh.
c.
Petunjuk
Ajaran Islam dalam Menghadapi Perubahan Sosial
Islam dengan sumber
utamanya Al – Qurán dan al – hadis diyakini berisi ajaran yang dapat membantu
manusia dalam memberikan jawaban terhadap permasalahan yang terjadi akibat
perubahan sosial. Permasalahannya adalah mampukah umat Islam tersebut menemukan
isyarat – isyarat yang terdapat dalam Al – Qurán dan al – sunnah tersebut untuk
mengatasi masalah tersebut. Jawabannya amat bergantung kepada kapasitas
intlektual umat Islam sendiri. Secara umum misi ajaran Islam adalah memberikan rahmat
bagi seluruh alam.
Yaitu
menunjukkan manusia agar hidupnya sejahtera lahir batin,
dengan jalan memberikan orientasi yang benar terhadap manusia. Fungsi Al –
Qurán yang demikian itu dapat dilihat dari nilai – nilai universal dari Al –
Qurán sebagai berikut :
Pertama,
berorientasi pada masa depan, dengan belajar kepada peristiwa masa lalu. “Hai orang – orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya
untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al – Hasyr [59]: 18)
Kedua,
berbasis pada riset dan data, “Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra’ [17]: 36)
Ketiga,
bersikap kritis terhadap segala setiap informasi sebelum diterimanya sebagai
kebenaran. “Hai orang – orang yang
beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah
dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa
mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS
Al – Hujurat [49]: 6)
Keempat,
senantiasa berorientasi pada tercapainya mutu yang unggul. “Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di
antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
(QS Al – Mulk [67]: 2)
Kelima, senantiasa
belajar dan meningkatkan kemampuan. Rasulullah Saw. Bersabda : “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga
keliang lahat.” Sikap itulah yang harus dimiliki umat Islam menghadapi
perubahan sosial.
Dengan
sikap demikian, maka dalam menghadapi perubahan sosial ia tidak akan kehilangan
jati dirinya sebagai seorang Muslim dan Mukmin.
Islam
menerapkan strategi perubahan seperti menetaskan telur. Sebuah telur akan
menetas jika sudah cukup waktunya. Telur tersebut akan menetas bukan dengan
cara memcahkan atau mengetuk telur dari luar, melainkan membiarkan telur itu
sendiri yang menetas. Perubahan sosial dalam Islam dimulai dari perbahan
pribadi masing – masing dan perubahan pribadi ini dimulai dari perubahan cara
berpikir (mindset) atau paradigma
berpikir. Nabi Muhammad Saw. Mengatakan, bahwa kehidupan akhirat yang abadi,
kehidupan di dunia adalah amanah Tuhan, dan akan dimintakan pertanggungjawabannya.
Kehidupan di dunia ini adalah saat untuk menghimpun amal kebajikan untuk
kehidupan diakhirat.
Strategi
perubahan sosial melalui perubahan pola pikir ini dapat dipahami firman Allah
swt.
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum
sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Al – Rad [13]: 11)
Pola
pikir yang dikehendaki Islam yang demikian itu pernah diterapkan oleh umat
Islam di zaman klasik (abad ke – 7 s.d 13 M). Pada masa itu umat Islam bersikap
terbuka, mau belajar kepada siapa saja, bersikap kritis, senantiasa
mengedepankan mutu, berbasis pada riset, seimbang, selalu berusaha menghsilkan
yang terbaik, dan memajukan seluruh aspek kehidupan. Bukan hanya melahirkan
ulama ahli ilmu agama Islam melainkan ulama dan cendekiawan yang ahli dalam
bidang kedokteran, farmasi, astronomi, fisika, kimia, biologi, psikologi,
filsafat, sosiologi, dan seterusnya.
Bab
II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan
sangat menentukan bagi terwujudnya cita – cita tiap individu ataupun kelompok
karena tingkat pendidikan tertinggi seseorang digunakan sebagai indeks sosial
kedudukannya. Stratifikasi sosial
merupakan konsep yang menunjukkan adanya perbedaan atau pengelompokkan
suatu kelompok sosial secara bertingkat misalnya dalam komunitas tersebut
terdapat strata tinggi, strata sedang dan starta rendah. Sedangkan perubahan –
perubahan yang terjadi pada lembaga – lembaga kemasyarakatan dalam suatu
masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya. Termasuk nilai sikap – sikap
sosial dan pola perilaku di antara kelompok dan masyarakat di sebut perubahan
sosial.
B. Saran
Di
era Globalisasi ini bangsa Indonesia memerlukan berbagai perbaikan dalam segala
bidang. Adapun bidang dasar yang cukup penting seperti sosial dan pendidikan,
budaya, politik, hukum serta bidang ekonomi agar perubahan yang terjadi
nantinya menjadi lebih baik lagi.
Kita
dapat menanamkan penerapan nilai – nilai UUD 1945 dan Pancasila agar bangsa
Indonesia tetap maju dan ciri khas dari bangsa tersebut tetap terjaga meskipun
pengaruh era Globalisasi tidak dapat di hindarkan. Kami yakin bahwa bangsa ini
akan memiliki kehidupan yang lebih baik jika berpegang teguh pada pedoman yang
ada. Walaupun jaman dan teknologi semakin canggih.
Daftar pustaka
Prof. Dr. H. Nata Abuddin , M.A .. Sosiologi pendidikan islam (Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada, 2014) cetakan 1.
Dr. H. Abdullah Ldi , Med. Sosiologi pedidikan individu masyarakat dan
pendidikan ( Tanggerang selan, Banten: PT RajaGrafindo persada, 2014)
cetakan 1.

Komentar
Posting Komentar